KONSEP
LABA
Arti income dalam hal perpajakan dapat
berbeda dengan arti income dalam akuntansi atau pelaporan keuangan. Dalam
istilah perpajakan, income atau laba
berarti jumlah kotor penghasilan sebagaimana digunakan dalam standar akuntansi
keuangan. Sementara dalam hal akuntansi, laba diartikan sebagai jumlah bersih
sebagaimana didefinisikan oleh FASB atau lebih spesifiknya adalah laba
komprehensif.
Laba akuntansi
diartikan sebagai selisih antara pendapatan dan biaya karena akuntansi secara
umum menganut konsep kos historis, asas akrual, dan konsep penandingan.
Pendefinisian laba sebagai pendapatan dikurangi biaya adalah definisi secara
struktural karena laba tidak diartikan secara terpisah dari pengertia
pendapatan maupun biaya (Haron, Saringat et al. 2013).
Laba adalah
hasil penerapan prosedur bukan sesuatu yang bermakna sintaktik. Untuk menangkap
arti laba secara jelas, akuntan harus memahami prosedur akuntansi secara rinci.
Sehingga, laba tidak dapat diintepretasi secara intuitif. Dan juga, pengukuran
pendapatn dan biaya sesuai prinsip akuntansi diterima umum lebih didasarkan
pada konsep kos historis sehingga laba yang dihasilkan mempertimbangkan
perubahan daya beli dan perubahan harga.
Karena laba
dianggap sebagai unsure yang cukup komprehensif dan kompleks untuk
merepresentasikan kinerja suatu perusahaan secara keseluruhan, bahasan mengenai
teori mengenai laba tidak dibatasi oleh tataran sintaktik tetapi juga meliputi
tataran semantik dan pragmatik. Hal inilah yang membedakan cakupan bahasan laba
dengan unsur-unsur laporan keuangan lainnya.
TUJUAN PELAPORAN LABA
Dalam
praktiknya, peran pengguna laporan keuangan menggunakan konsep laba dan model
pengambilan keputusan yang berbed-beda. Pengertian dan cara pengukuran yang
berbeda-beda ini dikesampingkan dalam hal tujuan dari pelaporan laba. Laba
akuntansi dengan berbagai interpretasi yang disebutkan di atas diharapkan dapat
digunakan antara lain untuk:
a. Indikator
efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam entitas bisnis yang diwujudkan
dalam tingkat kembalian atas investasi.
b. Pengukur
prestasi atau kinerja badan usaha dan manajemen.
c. Dasar
penentuan besarnya jumlah kena pajak.
d. Alat
pengendalian alokasi sumber daya ekonomis suatu negara.
e. Dasar
penentuan dan penilaian kelayakan tariff dalam perusahaan publik.
f. Alat
pengendalian terhadap debitur dalam kontrak utang.
g. Dasar
kompensasi dan pembagian bonus.
h. Alat
motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan.
i.
Dasar pendistribusian dividen.
KONSEP LABA KONVENSIONAL
Teori
laba masih harus dikembangkan dan ditinjau kembali agar mencapai interpretasi
yang tepat baik secara intuitif maupun secara ekonomis, sehingga jumlah laba
akuntansi memiliki manfaat yang tinggi, khususnya bagi para investor dan
kreditur. Laba akuntansi memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
a. Laba
akuntansi belum didefinisikan secara semantic dan jelas sehingga laba tersebut
secara intuitif dan ekonomis dapat bermakna.
b. Penyajian
dan pengukuran laba masih difokuskan pada pemegang saham biasa atau residual.
c. Prinsip
akuntansi diterima umum (PABU) sebagai pedoman pengukuran laba masih memberi
peluang untuk terjadinya inkonsistensi antar-perusahaan.
d. Karena
didasarkan pada konsep kos historis, laba akuntansi secara umum belum
memperhitungkan pengaruh perubahan daya beli dan harga.
e. Dalam
menilai kinerja perusahaan secara keseluruhan, investor dan kreditur, memandang
informasi selain laba akuntansi juga bermanfaat atau bahkan lebih bermanfaat
sehingga ketepatan laba akuntansi belum menjadi tuntutan yang mendesak.
KONSEP LABA DALAM TATARAN SEMANTIK
Konsep
laba dalam tataran semantik disini berkenaan dengan masalah makna apa yang
harus dilekatkan oleh perekayasaan pelaporan keuangan pada simbol atau unsur
laba sehingga lebih bermanfaat dan bermakna sebagai informasi. Pemaknaan laba
secara semantik akhirnya akan menentukan pemaknaan laba secara sintaktik yaitu:
1. Pengukur
kinerja perusahaan
Laba merepresentasikan
kinerja keuangan perusahaan karena laba dapat menentukan rasio-rasio keuangan
utama yang meliputi ROI, ROA, atau ROL sebagai alat pengukur efisiensi.
Efisiensi sendiri adalah kemampuan menciptakan output setinggi-tingginya dengan
sumber daya tertentu sebagai input.
2. Konfirmasi
harapan investor
Laba dapat diinterpretasikan
sebagai alat untuk mengonfirmasi harapan para investor. Asumsinya bahwa para
investor menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara publik sebagai
basis keputusan investasinya melalui prediksi laba. Dan asumsi lainnya adalah
pasar diteorikan akan bereaksi terhadap pengumuman laba. Sehingga prediksi
investor harus mencerminkan laba yang sesuai dengan yang dilaporkan entitas
dalam laporan keuangannya.
MAKNA LABA
Laba
dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan dalam mengasilkan barang dan
jasa. Hal ini berarti bahwa laba merupakan kelebihan pendapatan di atas biaya.
Pengertian ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha yang dikemukakan oleh Paton
dan Littleton (1967) yang memiliki sudut pandang terhadap laba sebagai kenaikan
aset perusahaan seperti berikut:
“Laba adalah kenaikan
aset dalam suatu periode akibat kegiatan produktif yang dapat dibagi atau
didistribusikan kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham, tanpa memengaruhi
keutuhan ekuitas pemegang saham semula” (Suwardjono
2005).
Dari
berbagai pengertian laba yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa laba secara konseptual memiliki karakteristik umum sebagai berikut:
a. Kenaikan
kemakmuran yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas. Entitas dapat berupa
perorangan, kelompok, intritusi, badan, lembaga, atau perusahaan.
b. Perubahan
terjadi dalam suatu kurun waktu sehingga harus diidentifikasi kemakmuran awal
dan kemakmuran akhir.
c. Perubahan
dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas yang menguasai
kemakmuran asalkan kemakmuran awal dipertahankan.
LABA DAN KAPITAL
Bahasan
mengenai laba tidak dapat dipisahkan dengan bahasan mengenai kapiral atau modal
tetapi makna keduanya harus dibedakan. Dengan mengacu pada definisi dari modal
yang dikemukakan oleh Irving Fisher, Hendriksen dan van Breda (1992) membedakan
laba dan modal sebagai berikut:
“Capital is stock of
wealth at an instant time. Income is a flow of services through time. Capital
is the embodiment of future services, and incomeis is the enjoyment of these
services over a specific period of time”.
Definisi
tersebut sejalan dengan hubungan konsep dasar kontinuitas usaha. Modal dapat
dihubungkan dengan persediaan atau potensi jasa. Sehingga, modal dapat dilihat
sebagai persediaan kemakmuran pada saat tertentu. Sementara itu, laba dapat
dihubungkan dengan aliran kemakmuran. Sehingga, laba adalah aliran potensi jasa
yang dapat dinikmati dalam kurun waktu tertentu dengan tetap mempertahankan
tingkat potensi jasa sebelumnya.
Asumsi
dasar dari konsep kontinuitas usaha adalah bahwa kegiatan usaha selalu berjalan
dan berkembang secara terus-menerus. Oleh karena itu, laba tidak harus selalu
dinikmati tetapi dapat terus tertanam di perusahaan sehingga menambah tingkat
investasi. Apabila laba harus dinikmati dalam hal inihanya dapat dilakukan
sejauh tidak melampaui tingkat modal semula. Definisi laba semacam ini disebut
laba atas dasar konsep pemertahanan modal atau kemakmuran. Konsep ini dilandasi
oleh gagasan bahwa entitas berhak mendapatkan return dan menikmatinya
setelah modal atau investasi dipertahankan keutuhan atau pulih seperti
sebelumnya. Harapan umum dari kegiatan bisnis adalah modal atau investasi yang
tertanam dalam perusahaan selalu berkembang. Konsep ini memiliki arti penting
dalam beberapa hal yang saling berkaitan sebagai berikut:
a. Membedakan
antara return atas investasi dan dan return dari investasi.
b. Memisahkan
dan membedakan transaksi operasi dalam arti luas dengan transaksi pendanaan
dari pemilik.
c. Menjamin
agar laba yang dapat didistribusi tidak mengandung pengembalian investasi (Ekinci 2011).
d. Memungkinkan
penentuan jumlah penyesuaian modal untuk mempertahankan kemampuan ekonomis awal
periode akibat perubahan harga dan daya beli sehingga laba ekonomis akan
terukur pula.
e. Memungkinkan
penggunaan berbagai dasar penilaian untuk menentukan tingkat modal pada saat
tertentu.
f. Memungkinkan
penerapan pendekatan aset kewajiban secara penuh dalam pemaknaan laba sehingga
jumlah laba akuntansi akan mendekati angka laba ekonomis.
Atas
dasar berbagai penjelasan di atas, laba kemudian didefinisikan secara umurm,
formal dan semantik sebagai berikut:
“Laba adalah tambahan
kemampuan ekonomis yang ditandai dengan kenaikan modal dalam suatu periode yang
berasal dari kegiatan produktif dalam arti luas yang dapat dikonsumsi atau
ditarik oleh entitas pemilik modal tanpa mengurangi kemampuan ekonomis modal
pada awal periode”. (Suwardjono
2005)
Definisi
tersebut bersifat umum karena tidak membatasi entitas pada pemegang saham saja
melainkan juga berupa kreditur, badan usaha, individual, atau kesatuan usaha.
Definisi tersebut juga menuntut pengukuran atau penilaian modal pada awal dan
akhir periode, tetapi tidak membatasi penilaian modal.
KONSEP LABA DALAM TATARAN SINTAKTIK
Dalam
tataran sintaktik, laba harus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan
prosedur akuntansi yang objek sehinggap jumlah laba dapat diukur dan disajikan
dalam laporan keuangan. Makna laba secara sintaktik adalah mendefinisikan laba
sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya.
Pengukuran dalam arti luas yang meliputi pengakuan, saat pengkuran, dan
prosedur pengakuan ditambah cara mengungkapan merupakan masalah pada tataran
sintaktik, dimana pada tataran semantik masalah yang timbul adalah mengenai
definisi.
a. Pendekatan
transaksi
Dengan
pendekatan ini, laba diukur dan diakui pada saat terjadinya transaksi yang
kemudian terakumulasi sampai akhir periode. Karena laba melekat pada pendapatan
maupun penjualan, dengan pendekatan transaksi dapat dikatakan bahwa laba timbul
dan diakui pada saat penjualan atau pertukaran terjadi. Laba akan terhitung
setelah biaya yang diperkirakan mendatangkan pendapatan juga diakui (konsep
penandingan). Adapun keuntungan
pendekatan transaksi bagi akuntansi untuk pelaporan laba adalah sebagai
berikut:
-
Komponen pembentuk laba bersih dapat
dirinci dengan berbagai basis antara lain atas dasar produk atau pelanggan
untuk kepentingan manajerial.
-
Laba yang berasal dari berbagai jenis
transaksi dapat dipisahkan dan dilaporkan untuk kepentingan eksternal.
-
Perubahan aset dan kewajiban merupakan
perubahan nilai yang diakui secara objektif pada saat perubahan terjadi akibat
transaksi penjualan dan biaya dengan pihak eksternal.
-
Jumlah rupiah serta jenis aset dan
kewajiban secara otomatis tersedia pada akhir periode. Jumlah rupiah yang
tersedia dapat dijadikan basis untuk penilaian berbagai aset dan kewajiban
tanpa harus melakukan mempertimbangkan perubahan nilai.
-
Karena perubahan nilai pasar aset tidak
diakui, artikulasi antar laporan keuangan dapat dipertahankan. Ini berarti
bahwa pendapatan dikurangi dengan biaya akan sama dengan perubahan ekuitas
pemegang saham. Namun, perubahan nilai pasar aset apabila perlu dapat diakui
pada tiap akhir periode sebagai penyesuaian. Hal ini merefleksi penerapan
konsep pemertahanan modal.
PENGUKURAN ATAU PENILAIAN MODAL
1. Jenis
Modal
Terdapat
dua jenis konsep modal yaitu modal financial dan fisis.
a. Modal
financial
Modal financial adalah
klaim dipandang dari jumalh rupiah atau nilai yang melekat padanya tanpa
memerhatikan wujud fisis klaim tersebut. Modal financial dari sisi badan usaha
adalah jumlah rupiah yang melekat pada total aset badan usaha tanpa memandang jenis
atau komponen aset. Laba atau pengembalian atas modal financial akan timbul
apabila jumlah rupiah aset pada akhir periode melebihi jumlah aset pada awal
periode.
b. Modal
fisis
Modal fisis adalah sumber ekonomis
yang dikuasai oleh entitas yang dipandang atau dimaknai sebagai kapasitas
produksi fisis yaitu kemampuan menghasilkan barang dan jasa. Kapasitas produksi
fisis harus dinyatakan dalam jumlah rupiah sebagaimana laba yang dinyatakan
dalam jumlah rupiah. Dengan konsep ini, modal dapat dipertahankan apabila aset
nonmoneter diukur atas dasar kos sekarang atau kos pengganti pada saat
pengukuran atau penilaian.
SKALA PENGUKURAN
Skala
pengukuran adalah unit pengukur yang dapat dilekatkan pada suatu objek sehingga
objek tersebut dapat dibedakan besar kecilnya dari objek yang lain atas dasar
unit pengukur tersebut.
1. Skala
nominal
Skala nominal adalah
satuan rupiah sebagaimana telah terjadi tanpa memperhatikan perubahan daya beli
dengan berjalannya waktu akibat perubahan kondisi ekonomis.
2. Skala
daya beli
Skala daya beli adalah skala untuk
mengatasi kelemahan skala rupiah nominal. Dengan skala ini skala nominal
dinyatakan kembali dalam bentuk rupiah daya beli atas dasar indeks harga
tertentu.
DASAR ATAU ATRIBUT PENGUKURAN
1. Kos
historis
Kos
historis merupakan jumlah rupiah sepakatan atau harga pertukaran yang telah
tercatat dalam sistem pembukuan. Kos historis dipilih biasanya karena kos
historis dipandang lebih objektif dan dapat diuji kebenarannya.
2. Kos
sekarang
Kos
sekarang atau kos pengganti menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran atau
kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang
sama jenis dan kondisinya atau penggantinya yang setara.
PENGUKURAN LABA DENGAN
MEMPERTAHANKAN MODAL
Adanya
tiga faktor penentu nilai capital (jenis, skala, dan dasar penilaian) yang
saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam pendekatan atau basis penilaian
modal. Berbagai pendekatan penilaian modal dan implikasinya terhadap penentuan
laba antara lain adalah:
1. Kapitalisasi
aliran kas harapan
2. Penilaian
pasar atas aset bersih perusahaan
3. Setara
kas sekarang
4. Harga
masukan historis
5. Harga
masukan sekarang
6. Pemertahanan
daya beli konstan
KONSEP LABA DALAM TATARAN PRAGMATIK
Dalam
kaitannya dengan laba, tataran pragmatik membahas apakah informasi laba
bermanfaat atau apakah informasi laba nyatanya digunakan. Karena banyaknya
pengguna laporan keuangan dengan berbagai kepentungan pula, berbagai macam pula
cara untuk dapat mengetahui kebermanfaatan laba itu sendiri. Diantaranya dengan
menanyakan langsung kepada para pengguna, mengenali bagaimana informasi laba
digunakan secara nyata, dan mengukur reaksi pasar modal terhadap pengumuman
laba akuntansi dalam satu periode.
PENYAJIAN LABA
Masalah
konseptual yang erat kaitannya dengan penyajian laba adalah pemisahan pelaporan
pos-pos transaksi operasi dan pos-pos transaksi dengan pemilik. Pos-pos
transaksi operasi dalam arti luas pada umumnya dilaporkan melalui laporan laba
rugi sedangkan pos-pos transaksi dengan pemilik dilaporkan melalui laporan
perubahan ekuitas.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar