aku sempat berbincang dengan hujan .
tapi dia hanya diam .
dingin ,
dingin dari ruang-ruang kosong antara jari-jemari yang tak kau genggam .
iya, luka tidak memiliki suara .
sebab air mata pun jatuh tanpa bicara .
Senin, 19 Desember 2016
Minggu, 18 Desember 2016
Something Beautiful, Tim Halperin
here we stand
the world awaits
we’ll let the stars tonight
light the way
hand in hand
through light or rain
it’s your constant love
that gives me strength
the world awaits
we’ll let the stars tonight
light the way
hand in hand
through light or rain
it’s your constant love
that gives me strength
under the starlight
we’ll find our way, i know
this is the start of something beautiful
with you by my side
there’s no place that we can’t go
this is the start of something beautiful
we’ll find our way, i know
this is the start of something beautiful
with you by my side
there’s no place that we can’t go
this is the start of something beautiful
when the wind
moves along your face
it captures everything
i long to say
so don’t look back, love
and don’t you wait
just say you’ll run with me
come what may
moves along your face
it captures everything
i long to say
so don’t look back, love
and don’t you wait
just say you’ll run with me
come what may
under the starlight
we’ll find our way, i know
this is the start of something beautiful
with you by my side
there’s no place that we can’t go
this is the start of something beautiful
we’ll find our way, i know
this is the start of something beautiful
with you by my side
there’s no place that we can’t go
this is the start of something beautiful
(ohh’s)
something beautiful
(ohh’s)
something beautiful
(ohh’s)
here we stand
the world awaits
it’s your love, i know
that gives me strength
the world awaits
it’s your love, i know
that gives me strength
under the starlight
we’ll find our way, i know
this is the start of something beautiful
with you by my side
there’s no place that we can’t go
this is the start of something beautiful
we’ll find our way, i know
this is the start of something beautiful
with you by my side
there’s no place that we can’t go
this is the start of something beautiful
source : http://lirik.web.id/lirik-lagu-tim-halperin-something-beautiful/
Ever Enough, A Rocket To The Moon
No I’m never gonna leave you darlingNo I’m never gonna go regardlessEverything inside of me is living in your heartbeatEven when all the lights are fadingEven then if your hope was shakingI’m here holding on
[Chorus:]I will always be yours forever and moreThrough the push and the pullI still drown in your loveAnd drink 'til I’m drunkAnd all that I’ve done,Is it ever enough
I’m hanging on a line here babyI need more than if's and maybe'sWe’ll come down from the highest heightsStill searching for the reason whyAnd now I know what it’s like,Reaching from the other sideAfter all that I’ve done
[Chorus:]I will always be yours forever and moreThrough the push and the pullI still drown in your loveAnd drink 'til I’m drunkAnd all that I’ve done,Is it ever enough?
For all that it’s worth, is it worth it?Cause more than it’s hard to desert itFor all that it’s worth, is it worth it?How do we know without searching?
I will write you this song to get back what’s oursWould that be enough?
[Chorus:]I will always be yours forever and moreThrough the push and the pullI still drown in your loveAnd drink 'til I’m drunkAnd all that I’ve done,Is it ever enough?
For all that it’s worth, is it worth it?Is it ever enough?How could we know without searching?Is it ever enough?
source : http://lirik.kapanlagi.com/artis/a-rocket-to-the-moon/ever-enough/
[Chorus:]I will always be yours forever and moreThrough the push and the pullI still drown in your loveAnd drink 'til I’m drunkAnd all that I’ve done,Is it ever enough
I’m hanging on a line here babyI need more than if's and maybe'sWe’ll come down from the highest heightsStill searching for the reason whyAnd now I know what it’s like,Reaching from the other sideAfter all that I’ve done
[Chorus:]I will always be yours forever and moreThrough the push and the pullI still drown in your loveAnd drink 'til I’m drunkAnd all that I’ve done,Is it ever enough?
For all that it’s worth, is it worth it?Cause more than it’s hard to desert itFor all that it’s worth, is it worth it?How do we know without searching?
I will write you this song to get back what’s oursWould that be enough?
[Chorus:]I will always be yours forever and moreThrough the push and the pullI still drown in your loveAnd drink 'til I’m drunkAnd all that I’ve done,Is it ever enough?
For all that it’s worth, is it worth it?Is it ever enough?How could we know without searching?Is it ever enough?
source : http://lirik.kapanlagi.com/artis/a-rocket-to-the-moon/ever-enough/
Kamis, 08 Desember 2016
Teori AKuntansi, Pengungkapan dan Sarana Interpretif
PENDAHULUAN
Pengertian pengungkapan dalam arti
sempit menurut Suwardjono, “Pengungakapan berarti penyampaian informasi relevan
selain melalui statemen keuangan.” Beberapa hal penting yang harus diperhatikan
dalam menentukan luasnya pengungkapan tujuan pengungkapan, manfaat pengungkapan
dan biaya yang harus ditanggung dalam penyusunannya. Faktor regulasi juga
menjadi bagian penting dari pengungkapan, jika perusahaan memperoleh dananya
dari publik atau pasar modal.
Metode pengungkapan yang digunakan
dalam penyajian laporan keuangan telah diatur dalam standar akuntansi atau
peraturan lain yang mengatur pengungkapan tersebut. Informasi yang dapat
disajikan dalam pengungkapan statemen keuangan diantaranya adalah catatan kaki,
penjelasan dalam kurung, istilah teknis, lampiran, komunikasi manajemen dan
catatan dalam laporan auditor.
Pengungkapan yang sampai sekarang
masih menjadi pembahasan teoritis adalah pengungkapan perubahan nilai dan
kedudukannya dalam pelaporan keuangan. Dalam Suwardjono telah dijelaskan bahwa,
pengungkapan perubahan nilai dapat dilakukan dengan memisahkan dan tetap
menyajikan secara terpisah hasil perubahan penilaian aset berdasarkan kos
historis dengan penilaian berdasarkan selain kos historis, hal tersebut
dimasudkan agar kualitas keterandalan dan keberpautan masih teteap terjaga
antar informasi tersebut.
Menurut Patton dan Littleton juga
menyatakan bahwa pengungkapan sarana interpretif dalam pelaporan keuangan
sah-sah saja, jika rerangka akuntansi pokok atas dasar kos tetap dipertahankan.
KONSEP PENGUNGKAPAN
Secara
konseptual pengungkapan merupakan bagian integral dari pelaporan keuangan, dan
secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam roses akuntansi,
yaitu penyajian informasi dalam bentuk statemen keungan.
Terdapat
beberapa sumber yang mengemukakan pengertian pengungkapan, diantaranya adalah
Evans (2003). Dia menyatakan bahwa pengertian dari pengungkapan adalah
Penyediaan informasi dalam statemen keuangan termasuk statemen keuangan itu
sendiri, catatan atas statemen keuangan, dan pengungkapan tambahan yang
berkaitan dengan statemen keuangan. Pengertian pengukapan oleh Evans ini
terbatas hanya pada hal-hal yang menyangkut pelaporan keuangan, pernyataan
manajemen atau informasi di luar ingkup pelaporan keuangan tidak termasuk.
Semantara
itu, Wolk, Tearney, dan Dodd memasukkan pula statemen keuangan segmental dan
statemen yang merfleksi perubahan harga sebagai bagian dari pengungkapan.
Mereka menyatakan bahwa pengungkapan berkaitan dengan informasi baik dalam
statemen keuangan maupun komunikasi tambahan termasuk catatan kaki,
peristiwa-peristiwa setelah tanggal statemen, diskusi dan analisis manajemen,
prakiraan keuangan dan operasi, dan statemen keuangan tambahan yang meliputi
pengungkapan segmental dan informasi pelengkap lebih dari kos historis (Suwardjono 2005).
Pengungkapan
juga sering dimaknai sebagai penyediaan informasi lebih dari apa yang dapat
disampaikan dalam bentuk statemen keuangan formal. Hal ini sejalan dengan
gagasan FASB dalam rerangka konseptualnya.
Masalah
teoritis yang terdapat di dalam pengungkapan adalah sebagai berikut:
- Untuk siapa informasi diungkapkan?
- Mengapa pengungkapan harus
dilakukan?
- Seberapa banyak dan informasi apa
yang diungkapkan?
- Bagaimana cara dan kapan
mengungkapkan informasi?
Siapa
yang Dituju
Rerangka
konseptual telah menetapkan bahwa investor dan kreditor merupakan piha yang
dituju oleh pelaporan keuangan sehingga pengungkapan ditujukan terutama untuk
mereka. Informasi yang diungkapkan untuk kepentingan publik secara umum harus
dilindungi dan dilayani, dan juga informasi kualitatif juga dituntut
disediakan, sehingga pengungkapan cenderung meluas.
Fungsi
atau Tujuan Pengungkapan
Secara
umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yag dipandang peru
untukmencapai tujuan pelaporankeuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang
mempunyai kepentingan berbeda-beda. Pengungkapan dapat dibagi menjadi beberapa
tujuan, yaitu: tujuan melindungi, tujuan informatif, dan tuuan ebuthan khusus.
Tujuan
melindungi dilandasi oleh gagasan bahwa tidak semua pemakai cukup canggih untuk
mendapatkan informasi atau mengolahnya sendiri hingga memperoleh substansi
ekonomik dari informasi tersebut, dengan kata lain Pengungkapan ditujukan untuk
melindungi perlakuan manajemen yang mungkin kurang terbuka. Sementara itu,
tujuan informatif dilandasi oleh gagasan bahwa pemakai yang dituju sudah jelas
memiliki tingkat kecanggihan tertentu. dengan demikian, Pengungkapan ditujukan
untuk menyediakan informasi yang dapat membantu keefektifan pengambilan
keputusan pemakai. Keluasan pengungkapan untuk tujuan informatif ini ditentukan
BAPEPAM bekerja sama dengan penyusun standar. Bentuk tujuan pengungkapan yang
ketiga adalah tujuan kebutuhan khusus. Tujuan kebutuhan khusus ini merupakan
gabungan dari tujuan perlindungan publik dan tujuan informatif (Suwardjono 2005).
Keluasan
dan Kerincian Pengungkapan
Keluasan
dan kerincian pengungkapan berkaitan dengan masalah seberapa banyak informasi
harus diungkapkan yang disebut dengan tingkat pengungkapan yang disebut dengan
tingkat pengungkapan. Evans (2003) mengidentifkasi tiga tingkat pengungkapan
yaitu memadai, wajar atau etis, dan penuh.
Tingkat
memadai merupakan tingkat minimum yang harus dipenuhi agar statemen keuangan
secara keseluruhan tidak menyesatkan utnuk pengmabilan keputusan. Tingkatan
yang kedua, tingkat wajar, merupakan tingkat yang harus dicapai agar semua
pihak mendapat perlakuan atau pelayanan informasional yang sama. Tingkatan yang
terakhir yaitu tingkat penuh (full disclosure). Tingkat ini menuntut
penyajian secara penuh semua informasi yang berpaut dengan pengambilan
keputusan yang diarah.
Beberapa
pertimbangan yang dapat dilakukan dalam pengungkapan adalah (1) tujuan, (2) kos
penyediaan, (3) keberlebihan informasi (overload), (4)
keengganan manajemen, dan (5) wajib atau sukarela.
Mempercayakan
pengungkapan sepenuhnya kepada manajemen sama saja dengan menyerahkan informasi
kepada pasar. Terdapat beberapa rgumen yang mendukung perlunya regulasi dalam
penyediaan informasi, yaitu penyalahgunaan, eksternalitas, kegagalan pasar,
asimetri informasi, dan keengganan manajemen. Di Indonesia, pihak yangmenjdi
regulator adalah BAPEPAM (melalui Peraturan BAPEPAM) dan profesi/IAI (melalui
standar akuntansi). BAPEPAM berkepentingan dengan tingkat pengungkapan dan apa
yang harus diungkapkan terutama untuk kepentingan pendaftaran publik dan
penawaran publik perdana (Suwardjono 2005).
Kendala Pengungkapan
Epstein
dan Pava dalam Evans (2003) menghasilkan temuan yang dapat menjadi pertimbangan
penyusun standar untuk menentukan tingkat pengungkapan yang sebenarnya tidak
perlu diungkapkan sebagai berikut:
a. Investor
mendasarkan keputusan investasinya dalam perspektif jangka panjang
b. Pengaruh
pialang terhadap keputusan makin berkurang
c. Pemegang
saham berkeyakinan bahwa laporan tahunan makin bermanfaat disbanding sebelumnya
d. Laporan
arus kas lebih penting bagi para pemakai daripada laporan laba rugi
e. Pendapat
auditor makin bermanfaat disbanding sebelumnya
f. Diskusi
dan analisis manajemen kurang bermanfaat
Pengungkapan Sukarela
Pengungkapan
sukarela adalah pengungkapan yang dilakukan perusahaan di luar apa yang
diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas. Teori
signaling melandasi pengungkapan sukarela ini. Manajemen selalu berusaha untuk
mengungkapakan informasi privat yang menurut pertimbangannya sangat diminati
oleh investor dan pemegang saham khusunya kalau informasi tersebut merupakan
berita baik. Dengan kesediaan manajemen dalam pengungkapan sukarela ini,
tingkat pengungkapan wajib yang dapat ditetapkan dapat diarahkan ke tingkat
wajar atau bahkan memadai tidak perlu penuh (Suwardjono 2005).
Apa
yang Diungkap?
Pengungkapan
meliputi statemen keuagan itu sendiri dan semua informasi pelengkap. Dengan
kata lain, apa yang diungkapkan Berkaitan dengan berbagai proposal tentang
komponen-komponen yang harus disampaikan. Dalam pengungkapan informasi kepada
pihak lain, terdapat beberapa model yang dapat digunakan, yaitu model Inti,
model FASB, model Komite Jenkins, model William, dan peraturan SEC/BAPEPAM (Suwardjono 2005).
Untuk
tujuan pelaporan keuangan, Hendriksen dan Van Breda (1992) menunjukkan beberapa
pos laporan atau jenis informasi yang memerlukan pengungkapan yaitu:
a. Penjelasan
kualitatif
b. Prakiraan
keuangan
c. Kebijakan
akuntansi
d. Perubahan
akuntansi
e. Peristiwa
pascapelaporan
f. Segmen
usaha
William
mengusulkan suatu model pengungkapan yang disebut model pelaporan alternative
lima-lapis yaitu:
a. Lapis
pertama, pos-pos yang memenuhi criteria pengakuan yang sama dengan model yang
sekarang berlaku.
b. Lapis
kedua, pos-pos yang memenuhi criteria pengakuan tetapi bermasalah dalam hal
reliabilitas pengukuran seperti nilai merek dagang.
c. Lapis
ketiga, pos-pos yang tidak begitu memenuhi kriteria reliabilitas dan definisi
seperti misalnya kepuasan konsumen.
d. Lapis
keempat, pos-pos yang memenuhi kriteria pengukuran, keterandalan, dan
keberpautan tetapi tidak memenuhi definisi elemen seperti angka
sensitivitas-risiko.
e. Lapis
kelima, pos-pos yang tidak memenuhi definisi elemen dan juga tidak dapat diukur
secara terandalkan seperti kapital intelektual karyawan.
Motode
Pengungkapan
Metode
pengungkapan berkaitan dengan masalah bagaimana secara teknis informasi
disajkan kepada pemakai dalam satu perangkat statemen keuangan beserta informasi
lain yang berpaut. Motode ini biasanya ditentkan secara spesifik dalam standar
akuntansi atau peraturan lain.
Informasi
dapat disajikan dalam pelaporan keuangan sebagai antara lain pos statemen
keuangan, catatan kaki (catatan atas statemen keuangan), penggunaan istilah
teknis (terminologi), penjelasan dalam kurung, lampiran, penjelasan auditor
dalam laporan auditor, dan komunikasi manajemen dalam bentuk surat atau
pernyataan resmi.
Catatan
kaki memiliki keunggulan sebagai berikut:
1. Mengungkapkan
informasi nonkuantitatif tanpa harus mengganggu penyajian utama dalam laporan
keuangan
2. Mengungkapkan
kualifikasi dan pembatasan pos-pos tertentu dalam laporan keuangan
3. Mengungkapkan
rincian pos-pos tertentu yang dianggap penting tanpa mendistraksi jumlah total
suatu pos atau tanpa mengganggu susunan penyajian pos-pos dalam laporan
4. Mengungkapkan
hal-hal yang bersitfat kuantitatif atau deskriptif yang tidak memenuhi criteria
pengakuan tetapi penting untuk disampikan atau yang mempunyai arti penting
sekunder
5. Mempertahankan
laporan keuangan sebagai ciri utama laporan keuangan dengan ringkas dan jelas
meskipun catatan kaki merupakan bagian integralnya.
Diskusi
dan analisis manahemen berisi hal-hal sebagai berikut:
1. Analisis
tentang perubahan hasil operasi terutama laba atau rigi, laba kotor penjualan,
dan biaya administrasi.
2. Analisa
tentang likuiditas, sumber pendanaan, penggunaan pinjaman, serta analisis
investasi.
3. Harapan
manajemen masa dating tentang konsisi politik, sosial, dan ekonomi dan hal-hal
yang mungkin terjadi akibat ketidakpastian kondisi sekarang.
4. Tanggapan
dan harapan manajemen kejadian atau perubahan nonfinansial yang memengaruhi
operasi manajemen.
5. Rencana-rencana
perubahan kejadian penting di masa datang.
6. Rencana
pengeluaran capital serta riset dan pengembangan.
7. Analisis
laporan keuangan yang diwujudkan dalam bentuk rasio dan tren beserta
Sementara
pengukapan oleh auditor pada umumnya berkaitan dengan hal-hal berikut:
1. Perubahan
akuntansi dan konsistensi
2. Keraguan
tentang kelangsungan perusahaan
3. Persetujuan
atas penyimpangan dari PABU
4. Penekanan
suatu hal dalam laporan atau kejadian
5. Pengaitan
nama auditor dengan laporan keuangan unaudit
6. Laporan
keuangan komparatif yang salah satu diaudit auditor lain
7. Pembatasan
lingkup audit dan independensi auditor
SARANA
INTERPRETIF
Pengungkapan
dapat dikatakan sebagai sarana interpretif dalam tataran praktis untuk menambah
kebermanfaatan dan keberpautan informasi akuntansi yang disajikan melalui media
statemen keuangan. Sarana interpretif dalam tataran praktis mengandung
pengertian bahwa butir-butir pengungkapan telah diakui sesuai dengan standar
akuntansi yang mengaturnya sehingga sesuai dengan tujuan pelaporan keuangan itu
sendiri.
Dalam
tataran praktis, terdapat suatu rerangka atau struktur akuntansi pokok atau pelaporan
keuangan pokok yang membatasi pengungkapan sesuai dengan tujuan pelaporan
keuangan. Tanpa rerangka pokok tersebut akan banyak hal yang akan dituntut
untuk diungkapkan, dilampirkan, atau dimasukkan dalam pelaporan keuangan.
Rerangka pokok juga diperlukan untuk membatasi tanggungjawab auditor dalam
menetapkan kewajaran statemen keuangan. Pelaporan keuangan pokok itu sendiri
diartikan sebagai pelaporan yang langsung ditentukan oleh standar akuntansi
atas dsar pertimbangan keterandalan dan keberpautan (Suwardjono 2005).
Sarana
interpretif adalah upaya-upaya untuk meningkatkan kebermanfaatan rerangka
akuntansi pokok dengan berbagai usulan untuk mengatasi kelemahan kos historis
sebagai basis penilaian. Terdapat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan
teori ini, yaitu dengan berjalannya waktu, nilai berubah sementara kos tidak,
dan apakah rerangka akuntansi pokok diganti atau sekadar ditambah sarana
interpretif. Kos dapat didefinisikan sebagai penghargaan sepakatan pada saat
suatu objek diperoleh dan menjadi data dasar dalam akuntansi, sedangkan nilai
didefinisikan sebagai persepsi terhadap manfaat suatu objek setiap saat dan
dinyatakan dalam satuan moneter.
Hal
yang menjadi permasalahan adalah, perlukah kos direvisi terus secara periodik?
Karena suatu persepsi selalu berubah dengan berjalannya waktu. Terdapat pro dan
kontra terhadap permasalahan ini. Argumen yang mendukung hal tersebut
menyatakan bahwa keberpautan keputusan sebagai salah satu kualitas informasi
baik untuk kepentingan manajemen maupun pihak luar. Untuk kepentingan
manajemen, perhitungan laba tiap perioda hendaknya mencerminkan dengan jelas
perubahan ekonomik penting termasuk rugi dan untung yang belum terealisasi yang
terjadi akibat penurunan dan kenaikan nilai faktor-faktor jasa yang masih belum
digunakan. Untuk kepentingan pihak luar, angka laba yang dihasilkan akan
mendekati laba ekonomik, sehingga neraca akan menunjukkan nilai perusahaan pada
saat itu (Suwardjono 2005).
Argumen
yang menyanggah revisi terhadap kos, diantaranya adalah Paton dan Littleton
(1970) yang menyatakan bahwa adanya perubahan nilai tidak berarti bahwa
rerangka akuntansi pokok berbasis kos tidak lagi bermanfaat sehingga harus
diganti. Tujuan utama akuntansi adalah pengukuran laba periodik dengan
menggunakan proses menandingkan kos dan pendapatan secara sistematik.
Revisi
Kos Fasilitas Fisis
Dalam
beberapa hal khusus, penilain kembali fasilitas fisis yang berakibat revisi
terhadap kos tercatat tidak dapat dihindari. Beberpa hal khusus yang
menghendaki penilaian kembali adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan
akan dibeli sehingga terjadi penggantian hak milik atau perubahan entitas yang
menghendaki pencatatan aset pada nilai perusahaan baru berdiri
2. Kuasi
reorganisasi untuk penyerapan deficit
3. Penggadaian
aset yang menghendaki penilaian untuk menentukan nilai gadai
4. Peraturan
pemerintah yang mengharuskan revaluasi
5. Terjadinya
musibah yang menghendaki penilaian untuk menentukan jumlah ganti rugi/asuransi
6. Penilaian
aset untuk keperluan penentuan nilai asuransi aset
7. Penentuan
nilai aset untuk keperluan pajak.
Terdapat
juga pro dan kontra terhadap revisi kos fasilitas fisik ini. alasan yang
dikemukan oleh pihak yang mendukung revisi adalah adanya distorsi informasi
ekonomik dan distorsi dana penggantian. Distorsi informasi ekonomik adalah kos
tercatat menghasilkan biaya yang tidak efektif/tidak bermanfaat secara ekonomik
sehingga mendistorsi daya melaba yang sesungguhnya. Sementara itu, yang
dimaksud dengan distorsi dana penggantian adalah kondisi tingkat harga-harga
barang menurun akuntansi depresiasi atas dasar kos historis cenderung
menghasilkan akumulasi dana yang berlebihan untuk tujuan penggantian.
Disisi
lain, alasan-alsan yang dikemukan oleh pihak yang menyanggah revisi adalah
prosedur tidak praktis, penilaian tidak terandalkan, depresiasi bukan akumulasi
dana, dan revisi dimungkinkan sebagai pelengkap dan pencatatan dilakukan dengan
akun kontra atau penambah.
Pengurangan
Nilai Buku Fasiitas Fisis
Berkaitan
dengan revisi kos fasiitas fisis adaah pengurangan atau penghapusan sebagian
kos atau nilai buku karena alasan teknis atau ekonomik tertentu dan bukan
semata-mata karena penurunan harga ata devaluasi. Pengurangan dapat dilakukan
kalau suatu kondisi menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan asset untuk
mendatangkan laba atau kas di masa datang.
PSAK
No. 48 memberikan pedoman untuk mengidentifikasi adanya penurunan kemampuan
suatu aset. Secara teknis, suatu aset dikatakan mengalami penurunan kemampuan
bilamana nilai tercatat (nilai buku) aset melebihi apa yang disebut jumlah
rupiah atau jumlah terperoleh kembali. Sedangkan secara substantif, pada setiap
tanggal neraca perusahaan harus mempertimbangkan berbagai kondisi eksternal dan
internal yang memberi indikasi bahwa penurunan emampuan telah terjadi (Suwardjono 2005).
Kalau
fasilitas fisis tertentu tidak digunakan karena alasan musim atau lainnya maka
pengangguran sementara fasilitas tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk
melakukan pengurangan besar kos aset. Demikian juga halnya dengan pengurangan
intensitas penggunaan sama sekali tidak dapat dijadikan alasan untuk
pengurangan kos menjadi rugi.
DAFTAR PUSTAKA
Teori Akuntansi, Konsep Laba
KONSEP
LABA
Arti income dalam hal perpajakan dapat
berbeda dengan arti income dalam akuntansi atau pelaporan keuangan. Dalam
istilah perpajakan, income atau laba
berarti jumlah kotor penghasilan sebagaimana digunakan dalam standar akuntansi
keuangan. Sementara dalam hal akuntansi, laba diartikan sebagai jumlah bersih
sebagaimana didefinisikan oleh FASB atau lebih spesifiknya adalah laba
komprehensif.
Laba akuntansi
diartikan sebagai selisih antara pendapatan dan biaya karena akuntansi secara
umum menganut konsep kos historis, asas akrual, dan konsep penandingan.
Pendefinisian laba sebagai pendapatan dikurangi biaya adalah definisi secara
struktural karena laba tidak diartikan secara terpisah dari pengertia
pendapatan maupun biaya (Haron, Saringat et al. 2013).
Laba adalah
hasil penerapan prosedur bukan sesuatu yang bermakna sintaktik. Untuk menangkap
arti laba secara jelas, akuntan harus memahami prosedur akuntansi secara rinci.
Sehingga, laba tidak dapat diintepretasi secara intuitif. Dan juga, pengukuran
pendapatn dan biaya sesuai prinsip akuntansi diterima umum lebih didasarkan
pada konsep kos historis sehingga laba yang dihasilkan mempertimbangkan
perubahan daya beli dan perubahan harga.
Karena laba
dianggap sebagai unsure yang cukup komprehensif dan kompleks untuk
merepresentasikan kinerja suatu perusahaan secara keseluruhan, bahasan mengenai
teori mengenai laba tidak dibatasi oleh tataran sintaktik tetapi juga meliputi
tataran semantik dan pragmatik. Hal inilah yang membedakan cakupan bahasan laba
dengan unsur-unsur laporan keuangan lainnya.
TUJUAN PELAPORAN LABA
Dalam
praktiknya, peran pengguna laporan keuangan menggunakan konsep laba dan model
pengambilan keputusan yang berbed-beda. Pengertian dan cara pengukuran yang
berbeda-beda ini dikesampingkan dalam hal tujuan dari pelaporan laba. Laba
akuntansi dengan berbagai interpretasi yang disebutkan di atas diharapkan dapat
digunakan antara lain untuk:
a. Indikator
efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam entitas bisnis yang diwujudkan
dalam tingkat kembalian atas investasi.
b. Pengukur
prestasi atau kinerja badan usaha dan manajemen.
c. Dasar
penentuan besarnya jumlah kena pajak.
d. Alat
pengendalian alokasi sumber daya ekonomis suatu negara.
e. Dasar
penentuan dan penilaian kelayakan tariff dalam perusahaan publik.
f. Alat
pengendalian terhadap debitur dalam kontrak utang.
g. Dasar
kompensasi dan pembagian bonus.
h. Alat
motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan.
i.
Dasar pendistribusian dividen.
KONSEP LABA KONVENSIONAL
Teori
laba masih harus dikembangkan dan ditinjau kembali agar mencapai interpretasi
yang tepat baik secara intuitif maupun secara ekonomis, sehingga jumlah laba
akuntansi memiliki manfaat yang tinggi, khususnya bagi para investor dan
kreditur. Laba akuntansi memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
a. Laba
akuntansi belum didefinisikan secara semantic dan jelas sehingga laba tersebut
secara intuitif dan ekonomis dapat bermakna.
b. Penyajian
dan pengukuran laba masih difokuskan pada pemegang saham biasa atau residual.
c. Prinsip
akuntansi diterima umum (PABU) sebagai pedoman pengukuran laba masih memberi
peluang untuk terjadinya inkonsistensi antar-perusahaan.
d. Karena
didasarkan pada konsep kos historis, laba akuntansi secara umum belum
memperhitungkan pengaruh perubahan daya beli dan harga.
e. Dalam
menilai kinerja perusahaan secara keseluruhan, investor dan kreditur, memandang
informasi selain laba akuntansi juga bermanfaat atau bahkan lebih bermanfaat
sehingga ketepatan laba akuntansi belum menjadi tuntutan yang mendesak.
KONSEP LABA DALAM TATARAN SEMANTIK
Konsep
laba dalam tataran semantik disini berkenaan dengan masalah makna apa yang
harus dilekatkan oleh perekayasaan pelaporan keuangan pada simbol atau unsur
laba sehingga lebih bermanfaat dan bermakna sebagai informasi. Pemaknaan laba
secara semantik akhirnya akan menentukan pemaknaan laba secara sintaktik yaitu:
1. Pengukur
kinerja perusahaan
Laba merepresentasikan
kinerja keuangan perusahaan karena laba dapat menentukan rasio-rasio keuangan
utama yang meliputi ROI, ROA, atau ROL sebagai alat pengukur efisiensi.
Efisiensi sendiri adalah kemampuan menciptakan output setinggi-tingginya dengan
sumber daya tertentu sebagai input.
2. Konfirmasi
harapan investor
Laba dapat diinterpretasikan
sebagai alat untuk mengonfirmasi harapan para investor. Asumsinya bahwa para
investor menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara publik sebagai
basis keputusan investasinya melalui prediksi laba. Dan asumsi lainnya adalah
pasar diteorikan akan bereaksi terhadap pengumuman laba. Sehingga prediksi
investor harus mencerminkan laba yang sesuai dengan yang dilaporkan entitas
dalam laporan keuangannya.
MAKNA LABA
Laba
dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan dalam mengasilkan barang dan
jasa. Hal ini berarti bahwa laba merupakan kelebihan pendapatan di atas biaya.
Pengertian ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha yang dikemukakan oleh Paton
dan Littleton (1967) yang memiliki sudut pandang terhadap laba sebagai kenaikan
aset perusahaan seperti berikut:
“Laba adalah kenaikan
aset dalam suatu periode akibat kegiatan produktif yang dapat dibagi atau
didistribusikan kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham, tanpa memengaruhi
keutuhan ekuitas pemegang saham semula” (Suwardjono
2005).
Dari
berbagai pengertian laba yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa laba secara konseptual memiliki karakteristik umum sebagai berikut:
a. Kenaikan
kemakmuran yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas. Entitas dapat berupa
perorangan, kelompok, intritusi, badan, lembaga, atau perusahaan.
b. Perubahan
terjadi dalam suatu kurun waktu sehingga harus diidentifikasi kemakmuran awal
dan kemakmuran akhir.
c. Perubahan
dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas yang menguasai
kemakmuran asalkan kemakmuran awal dipertahankan.
LABA DAN KAPITAL
Bahasan
mengenai laba tidak dapat dipisahkan dengan bahasan mengenai kapiral atau modal
tetapi makna keduanya harus dibedakan. Dengan mengacu pada definisi dari modal
yang dikemukakan oleh Irving Fisher, Hendriksen dan van Breda (1992) membedakan
laba dan modal sebagai berikut:
“Capital is stock of
wealth at an instant time. Income is a flow of services through time. Capital
is the embodiment of future services, and incomeis is the enjoyment of these
services over a specific period of time”.
Definisi
tersebut sejalan dengan hubungan konsep dasar kontinuitas usaha. Modal dapat
dihubungkan dengan persediaan atau potensi jasa. Sehingga, modal dapat dilihat
sebagai persediaan kemakmuran pada saat tertentu. Sementara itu, laba dapat
dihubungkan dengan aliran kemakmuran. Sehingga, laba adalah aliran potensi jasa
yang dapat dinikmati dalam kurun waktu tertentu dengan tetap mempertahankan
tingkat potensi jasa sebelumnya.
Asumsi
dasar dari konsep kontinuitas usaha adalah bahwa kegiatan usaha selalu berjalan
dan berkembang secara terus-menerus. Oleh karena itu, laba tidak harus selalu
dinikmati tetapi dapat terus tertanam di perusahaan sehingga menambah tingkat
investasi. Apabila laba harus dinikmati dalam hal inihanya dapat dilakukan
sejauh tidak melampaui tingkat modal semula. Definisi laba semacam ini disebut
laba atas dasar konsep pemertahanan modal atau kemakmuran. Konsep ini dilandasi
oleh gagasan bahwa entitas berhak mendapatkan return dan menikmatinya
setelah modal atau investasi dipertahankan keutuhan atau pulih seperti
sebelumnya. Harapan umum dari kegiatan bisnis adalah modal atau investasi yang
tertanam dalam perusahaan selalu berkembang. Konsep ini memiliki arti penting
dalam beberapa hal yang saling berkaitan sebagai berikut:
a. Membedakan
antara return atas investasi dan dan return dari investasi.
b. Memisahkan
dan membedakan transaksi operasi dalam arti luas dengan transaksi pendanaan
dari pemilik.
c. Menjamin
agar laba yang dapat didistribusi tidak mengandung pengembalian investasi (Ekinci 2011).
d. Memungkinkan
penentuan jumlah penyesuaian modal untuk mempertahankan kemampuan ekonomis awal
periode akibat perubahan harga dan daya beli sehingga laba ekonomis akan
terukur pula.
e. Memungkinkan
penggunaan berbagai dasar penilaian untuk menentukan tingkat modal pada saat
tertentu.
f. Memungkinkan
penerapan pendekatan aset kewajiban secara penuh dalam pemaknaan laba sehingga
jumlah laba akuntansi akan mendekati angka laba ekonomis.
Atas
dasar berbagai penjelasan di atas, laba kemudian didefinisikan secara umurm,
formal dan semantik sebagai berikut:
“Laba adalah tambahan
kemampuan ekonomis yang ditandai dengan kenaikan modal dalam suatu periode yang
berasal dari kegiatan produktif dalam arti luas yang dapat dikonsumsi atau
ditarik oleh entitas pemilik modal tanpa mengurangi kemampuan ekonomis modal
pada awal periode”. (Suwardjono
2005)
Definisi
tersebut bersifat umum karena tidak membatasi entitas pada pemegang saham saja
melainkan juga berupa kreditur, badan usaha, individual, atau kesatuan usaha.
Definisi tersebut juga menuntut pengukuran atau penilaian modal pada awal dan
akhir periode, tetapi tidak membatasi penilaian modal.
KONSEP LABA DALAM TATARAN SINTAKTIK
Dalam
tataran sintaktik, laba harus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan
prosedur akuntansi yang objek sehinggap jumlah laba dapat diukur dan disajikan
dalam laporan keuangan. Makna laba secara sintaktik adalah mendefinisikan laba
sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya.
Pengukuran dalam arti luas yang meliputi pengakuan, saat pengkuran, dan
prosedur pengakuan ditambah cara mengungkapan merupakan masalah pada tataran
sintaktik, dimana pada tataran semantik masalah yang timbul adalah mengenai
definisi.
a. Pendekatan
transaksi
Dengan
pendekatan ini, laba diukur dan diakui pada saat terjadinya transaksi yang
kemudian terakumulasi sampai akhir periode. Karena laba melekat pada pendapatan
maupun penjualan, dengan pendekatan transaksi dapat dikatakan bahwa laba timbul
dan diakui pada saat penjualan atau pertukaran terjadi. Laba akan terhitung
setelah biaya yang diperkirakan mendatangkan pendapatan juga diakui (konsep
penandingan). Adapun keuntungan
pendekatan transaksi bagi akuntansi untuk pelaporan laba adalah sebagai
berikut:
-
Komponen pembentuk laba bersih dapat
dirinci dengan berbagai basis antara lain atas dasar produk atau pelanggan
untuk kepentingan manajerial.
-
Laba yang berasal dari berbagai jenis
transaksi dapat dipisahkan dan dilaporkan untuk kepentingan eksternal.
-
Perubahan aset dan kewajiban merupakan
perubahan nilai yang diakui secara objektif pada saat perubahan terjadi akibat
transaksi penjualan dan biaya dengan pihak eksternal.
-
Jumlah rupiah serta jenis aset dan
kewajiban secara otomatis tersedia pada akhir periode. Jumlah rupiah yang
tersedia dapat dijadikan basis untuk penilaian berbagai aset dan kewajiban
tanpa harus melakukan mempertimbangkan perubahan nilai.
-
Karena perubahan nilai pasar aset tidak
diakui, artikulasi antar laporan keuangan dapat dipertahankan. Ini berarti
bahwa pendapatan dikurangi dengan biaya akan sama dengan perubahan ekuitas
pemegang saham. Namun, perubahan nilai pasar aset apabila perlu dapat diakui
pada tiap akhir periode sebagai penyesuaian. Hal ini merefleksi penerapan
konsep pemertahanan modal.
PENGUKURAN ATAU PENILAIAN MODAL
1. Jenis
Modal
Terdapat
dua jenis konsep modal yaitu modal financial dan fisis.
a. Modal
financial
Modal financial adalah
klaim dipandang dari jumalh rupiah atau nilai yang melekat padanya tanpa
memerhatikan wujud fisis klaim tersebut. Modal financial dari sisi badan usaha
adalah jumlah rupiah yang melekat pada total aset badan usaha tanpa memandang jenis
atau komponen aset. Laba atau pengembalian atas modal financial akan timbul
apabila jumlah rupiah aset pada akhir periode melebihi jumlah aset pada awal
periode.
b. Modal
fisis
Modal fisis adalah sumber ekonomis
yang dikuasai oleh entitas yang dipandang atau dimaknai sebagai kapasitas
produksi fisis yaitu kemampuan menghasilkan barang dan jasa. Kapasitas produksi
fisis harus dinyatakan dalam jumlah rupiah sebagaimana laba yang dinyatakan
dalam jumlah rupiah. Dengan konsep ini, modal dapat dipertahankan apabila aset
nonmoneter diukur atas dasar kos sekarang atau kos pengganti pada saat
pengukuran atau penilaian.
SKALA PENGUKURAN
Skala
pengukuran adalah unit pengukur yang dapat dilekatkan pada suatu objek sehingga
objek tersebut dapat dibedakan besar kecilnya dari objek yang lain atas dasar
unit pengukur tersebut.
1. Skala
nominal
Skala nominal adalah
satuan rupiah sebagaimana telah terjadi tanpa memperhatikan perubahan daya beli
dengan berjalannya waktu akibat perubahan kondisi ekonomis.
2. Skala
daya beli
Skala daya beli adalah skala untuk
mengatasi kelemahan skala rupiah nominal. Dengan skala ini skala nominal
dinyatakan kembali dalam bentuk rupiah daya beli atas dasar indeks harga
tertentu.
DASAR ATAU ATRIBUT PENGUKURAN
1. Kos
historis
Kos
historis merupakan jumlah rupiah sepakatan atau harga pertukaran yang telah
tercatat dalam sistem pembukuan. Kos historis dipilih biasanya karena kos
historis dipandang lebih objektif dan dapat diuji kebenarannya.
2. Kos
sekarang
Kos
sekarang atau kos pengganti menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran atau
kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang
sama jenis dan kondisinya atau penggantinya yang setara.
PENGUKURAN LABA DENGAN
MEMPERTAHANKAN MODAL
Adanya
tiga faktor penentu nilai capital (jenis, skala, dan dasar penilaian) yang
saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam pendekatan atau basis penilaian
modal. Berbagai pendekatan penilaian modal dan implikasinya terhadap penentuan
laba antara lain adalah:
1. Kapitalisasi
aliran kas harapan
2. Penilaian
pasar atas aset bersih perusahaan
3. Setara
kas sekarang
4. Harga
masukan historis
5. Harga
masukan sekarang
6. Pemertahanan
daya beli konstan
KONSEP LABA DALAM TATARAN PRAGMATIK
Dalam
kaitannya dengan laba, tataran pragmatik membahas apakah informasi laba
bermanfaat atau apakah informasi laba nyatanya digunakan. Karena banyaknya
pengguna laporan keuangan dengan berbagai kepentungan pula, berbagai macam pula
cara untuk dapat mengetahui kebermanfaatan laba itu sendiri. Diantaranya dengan
menanyakan langsung kepada para pengguna, mengenali bagaimana informasi laba
digunakan secara nyata, dan mengukur reaksi pasar modal terhadap pengumuman
laba akuntansi dalam satu periode.
PENYAJIAN LABA
Masalah
konseptual yang erat kaitannya dengan penyajian laba adalah pemisahan pelaporan
pos-pos transaksi operasi dan pos-pos transaksi dengan pemilik. Pos-pos
transaksi operasi dalam arti luas pada umumnya dilaporkan melalui laporan laba
rugi sedangkan pos-pos transaksi dengan pemilik dilaporkan melalui laporan
perubahan ekuitas.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Komentar (Atom)