Kamis, 29 Agustus 2019

01 08 2019

Aku tak pernah tau bagaimana cara Tuhan ciptakan hatiku.

Aku pula tak pernah tau bagaimana cara Tuhan membentuk perasaan dalam diriku.


Aku pernah sangat rapuh meski itu dulu, tapi yang kurasa tidak serapuh ini.
Aku masih bisa tegar, melangkah kembali.
Menjemput semua harapan baru, semangat baru.
Meski bukan dengan waktu yang sebentar, nyatanya aku mampu.
Bahkan dengan bangga aku bisa menutup luka itu yang lantas memuai menjadi (bahagia)

Hidupku setelah itu sungguh terasa asyik, sering aku lupa bahwa nyatanya aku masih terluka.
Hidupku setelah itu sungguh membuat aku buta, buta bahwa harus aku akui aku masih saja berpeluh derita.
Tapi aku tau Tuhan Maha Segalanya, dia ciptakan aku beserta luka, juga bahagia.
Aku bersyukur berada di titik itu hingga kini.
Aku lebih mampu menghargai kesempatan dan waktu yang aku punya.

Hingga tiba waktunya, Tuhan takdirkan aku untuk mengulang kembali satu keadaan yang pernah aku lalui dan lantas berakhir "gagal".
Semuanya terasa baik-baik saja.
Aku rangkai segala bentuk keraguan, ketakutan dan segala macam gejolak perasaan menjadi sebuah kepercayaan.
Sungguh andai kau tau, sebentuk kepercayaan itu sangatlah tulus, meski sering sedikit hatiku terluka dan kecewa karenamu, tapi sebentuk itu tetap terjaga.
Aku kuatkan keimanan ku pada Tuhan bahwa apa semua yang terjadi sungguh itu karena RidhoNya, tidak dalam keadaan dan waktu yang salah.
Aku yakinkan bahwa ini adalah hal yang terbaik, kado dari Tuhan untuk segala bentuk ujian yang ku terima untukku beberapa waktu ini.
Aku yakinkan bahwa aku bahagia, sangat bahagia, perasaan yang terlalu susah untuk aku bicarakan melalui tulisan bahkan lagu, tapi Tuhanku tau, dalam tiap sujud syukur itu salah satunya karena adanya kamu.

Suatu saat lagi, Tuhan tunjukkan kado lain, kado berbentuk makhluk kecil yang Tuhan titipkan di rahimku sendiri.
Makhluk itu hidup disana, menemaniku hampir 23 minggu ini, memberikan respon terbaik saat dia ingin aku tau bahwa memang dia ada disana.
Lagi, dalam sujud aku tak henti bersyukur karena aku tau, Tuhan memilihku dan percaya padaku untuk menjaganya, melahirkan nya, dan membuat dia tumbuh bahagia tanpa cela.
---------------------------------------------------------------------------


Bersambung la, sambil kerja cuy ga sanggup meweknya :v

Rabu, 19 Desember 2018

Garis Waktu

Cinta membuatmu bertekuk lutut.
Jika ia merendahkanmu, tinggalkan.
Jika ia rela bertekuk lutut bersama denganmu,
JANGAN LEPASKAN.
---------------------------------------


Akhir-akhir ini aku semakin merasa aku ini bukan aku.
Aku kehilangan apapun yang ada di dalam tubuhku ini.
Entah itu perasaanku, euphoria kebahagiaan, empati pada diriku sendiri, bahkan apa yang ada dalam diriku, semua.
Semuanya terasa semu,
Adakah memang garis waktu dapat mengembalikan semuanya yang sudah hilang?
Bisakah aku seperti dulu?

Dulu, aku pernah bahagia menjadi aku.
Tapi, entah kenapa semakin kesini aku membenci diriku sendiri.
Diriku yang menurutnya "aneh"
Diriku yang selau dituntutnya untuk "bertekuk lutut"
Diriku yang selalu harus menjadi hal lain yang sebenarnya membuat aku sendiri lelah dan terluka.

Dulu, aku sering bahagia menjadi aku.
Aku yang selalu merasa beruntung karena dicintai olehnya.
Aku yang selalu bahagia menjadi diriku sendiri.
Haruskah ku pergi?
Atau haruskah aku bertahan dengan mengharapkan suatu perubahan?

Tapi, kapan?
Kata-kataku selalu tertahan saat bersamanya.
Ketakutan itu menjalar dalam seluruh tubuh dan ingatanku.
Semakin aku kuatkan semakin tergambar jelas.
Adakah memang aku aneh?
Tapi kenapa dulu aku bisa bahagia?
Kenapa aku sekarang seperti ini?
Apa benar ini hukuman buatku?
Aku salah apa?